Hari Minggu Paskah VII
20 Mei 2012
(Kis 1:15–17, 20a, 20c–26; 1 Yoh 4:11–16; Yoh 17:11b–19)
Keheningan dan Kata
Hari minggu ini adalah Hari Minggu Paskah VII, merupakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-46. Menyambut hari tersebut, Bapa Suci Benedictus XVI menulis pesan dengan judul “Keheningan dan Kata: Jalan Evangelisasi”. Keheningan merupakan unsur integral dalam komunikasi dan membantu kita untuk dapat lebih mampu mendengar dan memahami diri sendiri dan sesama. Dengan keheningan kita dapat lebih menyampaikan gagasan lebih bermakna. Kita dapat mengatakan sesuatu dengan lebih jelas dan apa yang diharapkan oleh orang lain dapat semakin jelas. Kita lebih menghargai orang lain dan terciptalah sikap saling mendengarkan serta memuliakan hubungan manusiawi kita.
Dalam bacaan Injil Minggu ini Jesus menyampaikan hubungan dia dengan Allah Yang Maha Kuasa. Semua tindakan Yesus seperti diungkapkan dalam Injil terjadi untuk memperkenalkan siapa sesungguhnya Yang Maha Kuasa itu, bagaimana Dia bisa dikenal, dan siapa nama-Nya: "Bapa" , Aramnya "Abba". Dia yang sedemikian luhur itu kini dikenal bukan lagi dengan nama yang tak boleh diucapkan karena teramat keramat seperti dihayati dalam agama Yahudi dulu. Jesus mengkomunikasikan kenyataan yang sangat agung dan misteri itu kepada sesama umat manusia.
Dalam Injil Yohanes memang ada gagasan bahwa kehidupan ini terancam oleh kekuatan-kekuatan "dunia" yang berusaha menjauhkan orang dari sumber kehidupan sendiri. Boleh dikata, dalam alam pikiran Injil ini, dunia diperlihatkan sebagai tempat berkuasanya kekuatan jahat. Tetapi tidak diajarkan untuk menyangkal dunia sebagai kenyataan seburuk apapun kenyataan itu. Karya penebusan justru mendatangi dan menerangi tempat gelap, yakni dunia, sehingga berangsur-angsur berubah menjadi tempat terang sendiri. Inilah tugas perutusan Jesus Kristus untuk hadir dan berkarya di dunia umat manusia. Maka dia juga memakai jalan komunikasi senasib seperjuangan dengan bangsa manusia. Dia adalah Allah Putra yang berinkarnasi dalam dunia.
Jesus mendoakan agar para murid bersatu. Bila dibaca dalam konteks zaman Yohanes sendiri, pokok ini amat berarti. Dari dulu para murid tidak berasal dari kalangan yang seragam, setingkat, atau seasal. Perbedaan satu sama lain cukup besar. Tetapi keragaman itu justru dipandang sebagai sumber kekuatan untuk bersatu. Ini paradoks kehidupan komunitas; semakin dirasa ada perbedaan, semakin pula dirasa kebutuhan bersatu. Komunikasi menjadi unsur pokok dalam keanekaragaman maupun kesamaan.
Kesatuan yang didoakan Jesus tadi didasarkan pada kesatuan antara dirinya dengan Bapanya. Kesatuan yang ditonjolkan itu kesatuan yang timbul karena yang satu patuh dan yang lain berperhatian. Kedua belah pihak yang bersatu jelas tidak sama, tetapi keduanya membangun keselarasan. Kesatuan ini tumbuh karena ada saling tunjang menunjang. Kesatuan seperti itu pula yang dialami sebagai kekuatan di dalam komunitas para pengikut Jesus yang pertama dan yang mereka ajarkan kepada generasi selanjutnya.
Kita sadar bahwa Allah menciptakan manusia dengan aneka perbedaan. Namun Allah menghendaki agar dalam perbedaan itu, manusia tetap dalam kesatuan. Dan keragaman itu justru akan menghiasi kesatuan. Jesus ingin para murid dan juga semua orang yang akan menjadi murid-Nya tetap bersatu dalam cinta, seperti Dia dan Bapa bersatu.
Komunikasi memang merupakan hal paling dasar yang harus dimiliki oleh semua orang. Sekarang ini hampir semua orang sekurang-kurangnya menggunakan telepon genggam (HP). Orang sekarang tidak dapat berpisah dengan yang namanya HP ini.
Semoga dengan diketemukan alat-alat komunikasi modern seperti sekarang ini dapat mendorong kita untuk lebih bersatu. Untuk bersatu diperlukan semangat saling menerima, menghargai, mendengarkan, mengerti pihak lain meski berbeda. Ini menuntut kerendahan hati untuk bekerja sama, mengakui kesalahan dan kekurangan serta kemauan berjalan bersama sebagai saudara yang sama-sama dicintai Allah.
Kita perlu menemukan ruang-ruang keheningan untuk doa, meditasi dan berbagi Sabda Allah dalam mengelola hidup kristiani. Kita menemukan keheningan Allah di salib, karena di sinilah suara Allah bergaung, penuh kasih kepada umat manusia.


















